Bagaimana cara untuk memulai bisnis pertanian yang berkelanjutan?
Sekitar tahun 2020 yang lalu, Kementerian Pertanian berkontribusi "tidak terlalu besar" dalam pengembangan salah satu "agrowisata untuk membendung alih fungsi lahan pertanian" di Kota Bogor dengan membangun dek-dek kayu di Kampung Ciharashas Desa Mulyaharja Kecamatan Kota Bogor Selatan, yang sekarang menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Kota Hujan.
Coba kalau sawah yang terancam alih fungsi diginiin aja
Saya terkesan dengan keindahan dan "kelengkapan" Rammang-Rammang di Kabupaten Maros sebagai sebuah ekowisata sekaligus agrowisata yang dapat dijadikan benchmark untuk mengembangkan agrowisata/ekowisata di area pertanian milik petani yang terancam alih fungsi lahan ke non pertanian. Setelah disuguhi indahnya vegetasi nipah saat kami menyusuri sungai, begitu mendarat di Kampung Berua yang merupakan destinasi utama dari Rammang-Rammang, rasanya nikmat sekali menyusuri jalur hiking yang indah sepanjang kurang lebih 2 kilometer (tergantung pilihan rutenya) dengan beberapa spot unggulan seperti hamparan persawahan dan empang milik penduduk, Padang Batu Ammarung, Gua Kingkong, dan Gua Berlian.
Meskipun belum 100% ideal, Rammang-Rammang menjadi salah satu best practice ekowisata sekaligus agrowisata di Indonesia. Di Kampung Berua, kita dapat memuaskan diri menyusuri area persawahan dengan latar belakang pemandangan pegunungan karst yang terkategori "breathtaking", berinteraksi dengan para petani yang sedang menjemur gabahnya, sampai minum air kelapa muda dan legen/tuak setelah lelah hiking. Fasilitas umum seperti toilet dan musholla pun tergolong baik yang tidak lepas dari peran program Corporate Social Responsibilities (CSR) dari berbagai pihak seperti Bank Indonesia, BRI, dll. Rombongan turis-turis asing yang kami temui, semuanya mengatakan bahwa Rammang-Rammang itu indah dan mengesankan. Rammang-Rammang Ecolodge yang menjadi fasilitas akomodasi utama disana pun tergolong berkelas dengan pelayanan baik.
Ke depannya saya optimis kita dapat lebih memuliakan sektor pertanian melalui agrowisata dan ekowisata. Dengan ratusan Unit Pelaksana Teknis dan jutaan petani binaan di seluruh Indonesia, berikut dukungan CSR dari berbagai perusahaan serta BUMN, insya Allah Kementerian Pertanian mampu mengkoordinirnya secara nasional. Begitulah salah satu cara "membalas budi" para petani yang sudah berkorban tenaga, waktu dan materi supaya saudara-saudaranya di kota tercukupi kebutuhan pangannya.
Untuk mengembangkan ekowisata/agrowisata tentu ada ilmunya. Parameter potensi daerah wisata sebenarnya sama, baik itu di hutan, gunung, kota, dll. Pertama adalah masalah promosi. Daerah wisata memerlukan promosi bukan saja agar diketahui, tapi juga untuk meningkatkan prestige. Semakin banyak promosinya, akan semakin bagus. Ekoturisme di Singapura dipromosikan habis-habisan dan taman botaninya lebih dikenal dibandingkan di Indonesia, padahal di sana hutan saja tidak ada. Singapura memang dikenal serius dalam urusan promosi wisata dibandingkan Indonesia.
Yang kedua, masalah infrastruktur. Jangan lupa bahwa turis-turis asing itu tidak akan membayar mahal dan membuang waktu pergi travelling setengah dunia hanya untuk melihat infrastruktur yang pas-pasan. Ini penting bagi Indonesia karena negara ini letaknya jauh dari destinasi wisata unggulan dunia dan asal turis potensial dari Eropa, Jepang, dan AS. Jangan sampai obyek wisata hanya dijadikan sapi perah penguasa lokal saja, pelaku sektor wisata dicurangi dan dipersulit, tapi fasilitas tidak bagus.
Yang ketiga adalah pelayanan. Apapun judulnya, pariwisata adalah industri jasa hospitality. Karenanya pelayanan yang diberikan harus berkualitas. Bukan saja dari sisi keramahan penduduk, tapi juga dari kuantitas, kualitas, dan kemudahan akses pelayanan. Kualitas SDM sangat mempengaruhi suatu lokasi yang dikembangkan sebagai obyek wisata. SDM adalah faktor penting melebihi keindahan/kekayaan alamnya itu sendiri. Negara-negara seperti Singapura, Thailand, dan Korea Selatan paham betul akan hal ini dan mereka meraup keuntungan besar dari sektor pariwisata. Padahal kalau kita lihat kekayaan alam mereka, sebenarnya kalah jauh dari Indonesia.
Dijawab sambil membayangkan betapa asyiknya bersepeda, hiking atau naik ATV di area persawahan yang ditetapkan menjadi kawasan agrowisata yang letaknya tidak terlalu jauh dari kota besar dan terancam alih fungsi lahan. Sebuah tempat dimana orang-orang kota yang selama ini hanya "tau beres" menikmati aneka menu di meja makan rumahnya, bisa lebih memahami perjuangan para petani dengan berinteraksi langsung menginap di rumah petani, berdiang di tungku perapian, mengemudikan traktor dan combine harvester, memetik biji kopi, memberi makan hewan ternak, dan berbagai jenis aktivitas lain yang akan "menyadarkan" orang-orang kota bahwa sektor pertanian adalah "low profile" tetapi mulia
Comments
Post a Comment